Aku seorang akuntan berinisial G (40 tahun), bekerja di sebuah Bank terkenal di Jakarta. Aku sudah menikah sejak 19 tahun yang lalu dengan seorang wanita yang sangat cantik, dan kami berdua telah dikaruniai seorang anak laki-laki tampan yang kini sudah beranjak dewasa. Hubungan keluarga kami dibilang sangat harmonis. Aku pintar membagi waktu antara mengurus pekerjaan, bergaul dengan orang-orang di lingkungan blok, serta memanjakan isteri dan ankku. Aku memang bukan seorang pengembara seks di luar, karena aku yakin isteriku selama ini sudah memberikan pelayanan seks yang sangat memuaskan, bak seorang servicer yang mampu memuaskan kliennya (aku). Tetapi sejak kecil (entah kelainan atau apa) aku sangat menyukai hal-hal yang berbau seks dan sebagainya. Aku sering menonton blue film dan membaca cerita-cerita panas yang merangsang otot kontolku berkontraksi.
Secara fisik, aku dinilai oleh orang-orang sebagai lelaki yang gagah. Wajahku ganteng seperti artis Hollywood, Tubuku kekar dan atletis, muka bersih, ditambah penampilanku yang mentereng menarik siapa saja yang melihatku. Tidak sedikit ibu-ibu satu blok (tetanggaku) yang memuji kegagahanku, dan tidak sedikit pula teman-teman kerjaku yang menyanjung ketampananku. Aku menjadi geer karenanya, karena itulah aku sering melakukan perawatan tubuh dengan ikutan fitnes ataupun ikut olah raga lain yang membuatku lebih terlihat gagah, berharap predikat ‘tampan’ masih kusandang melalui mulut orang-orang tersebut.
Di lingkungan satu blok, aku mempunyai seorang tetangga yang kebetulan adalah seorang dukun pijat. Namanya Mbok Waliah, orang-orang sering memanggilnya Mbok li atau Wak li. Wak li kini sudah berusia kepala tujuh (kira-kira 73 tahun )namun kemampuan pijatnya masih pintar dan dirasakan betul oleh para pelanggannya. Wak li kini hidup seorang diri di dalam gubuk pijat kesayangannya. Sang suami tercinta sudah 20 tahun meninggalkannya dan mereka sama sekali belum dikaruniai anak satupun. Wak li sebatang kara di usianya yang sudah renta itu dan hidup dengan menggantungkan usaha pijatnya sampai sekarang. Aku sendiri, jujur, belum pernah merasakan enaknya pijatan wak li yang menurut orang-orang pijatan wak li sangat mujarab menyembuhkan beberapa keluhan.
Meskipun aku belum merasakan pijatan lembutnya, tapi sampai saat ini, aku dan wak li cukup baik dalam hubungan tetangga. Wak li adalah sosok wanita tua yang baik dan penyayang, bahkan ia sering memanjakan anak laki-lakiku sejak anakku kecil. Hubungan ‘tetangga’ antara kami berdua pun mengalir dengan biasa-biasa saja, dan tidak disangka bila pada suatu siang hubungan itu melebur menjadi suatu hubungan yang intim layaknya sepasang suami isteri yang tengah dimabuk hasrat. Hubungan itu berubah secara tiba-tiba menjadi suatu hubungan yang lebih dekat karena dilatarbelakangi oleh nafsu birahi kami. Rasanya kami berdua pun seperti terbang bersama dalam udara kenikmatan dan kami pun tak mampu membendung betapa hasrat kami sangat kuat hingga kami ingin sekali melakukannya berulang-ulang sampai hasrat itu terpuaskan.
Siang itu(minggu), mendadak tubuhku pegal-pegal karena seminggu ini aku dan rekan-rekan kerjaku touring di beberapa kota untuk sekadar berekreasi. Sudah hampir seminggu isteriku pulang ke rumah orang tuanya karena mertuaku tiba-tiba sakit dan ia berniat merawat orang tuanya selama beberapa waktu. Anak laki-lakiku pun ikut dengan isteriku selagi sekarang adalah musim liburan semester untuk anak sekolah. Aku yang di rumah sendirian, tidak mempunyai pembantu, tidak ada orang lain, terpaksa mengerjakan segala tugas rumah seorang diri. Itu artinya, sudah seminggu aku tidak melakukan hubungan seks dengan isteriku sehingga kontolku ini berada dalam keadaan tegang yang luar biasa dahsyatnya. Dan di saat-saat seperti ini, dimana aku pegal-pegal di sekujur tubuhku (termasuk kontolku minta di service) tentu membuthkan seorang ahli pijat yang sanggup menyembuhkan keluhan pegalku ini.
Akhirnya, aku memutuskan diri minta bantuan wak li untuk memijatku. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana jeans biru, aku pun mengunjungi gubug milik wak li yang cukup tua namun tertata rapi di dalamnya. Dan tentusaja wak li tidak menolak permintaanku karena aku ini tetangga yang lumayan dekat dengannya. Dan aku setuju-setuju saja, karena aku memang membuthkan pijatannya untuk menghilangkan rasa pegalku ini. Lalu kututup pintu rumah wak li supaya tidak ada orang lain yang melihatku sedang dipijit. Dan setelah masuk ke kamar wak li, wak li dengan siagap menutup gordyn kamarnya itu. Kupandangi kamar praktik wak li. Kamar itu sangat bersih dan rapi, kasurnya yang bersih ditutupi kelambu biru dan kesannya seperti kamar pengantin orang-orang India. Meskipun rumahnya hanyalah gubug yang mungkin sebentar lagi akan roboh kalau ada angin besar.
Aku pun disuruhnya melepas baju (telanjang dada) agar wak li bisa leluasa memijat pinggang dan dadaku. Ya sudahlah, aku menurut. Kulepas kaos oblongku, sehingga tubuh kekar ini tercetak dengan jelasnya dibasahi dengan peluh yang membanjiri dadaku karena siang ini udara begitu menyengat dan aku cukup lelah. Wak li sendiri hanya mengenakan jarit untuk menutupi bagian bawahnya dan bagian atasnya hanya ditutupi oleh singlet putih tanpa menggunakan BH seperti ibu-ibu wanita lainnya. Aku tengkurap di atas kasur itu, sementara wak li sudah mulai megoleskan minyak (entah namanya apa) ke bagian punggungku. Sambil memijat-mijat, aku bercengkarama dengannya.
“Mas G badannya kekar ya? Kelihatan perkasa nih, mas.”
Aku tersenyum nyinyir,”ah, enggak juga kok, Wak. Biasa aja kayak bapak-bapak lainnya.”
“Rahasianya apa supaya badannya bisa kekar kayak gitu, mas?”
“Cuma olah raga doang wak, nggak ada lain-lain.”
“Oh….,”hanya itu yang ditambakan.
Tak sampai lima belas menit, aku disuruh membalikkan badan. Tampak dadaku yang padat berisi dan susuku yang macho serta otot-otot tubuhku yang gagah di depan wak li. Wak li memandang sejenak dadaku. Lalu tersenyum, sepertinya ia suka dengan dadaku yang gagah ini. kemudian ia meraba bagian dadaku seperti sedang menggerayangi penuh nafsu. Sontak saja, kontolku yang memang udah sering ngaceng, jadi tambah ngaceng lagi karena rabaannya yang begitu halus. Aku diam saja. Wak li kemudian melakukan hal yang serupa: memijatku. Ah, sungguh rasanya dipijat di bagian dada oleh wak li sangat enak. Aku menyesal karena selama ini tidak pernah meminta bantuannya memijatku.
“Wak, bagian paha dan betis juga ya? Disitu juga pegel,”ujarku.
“Tapi celananya lepas dulu ya, mas. Biar wak enak mijitnya.”
Aduh, parah! Aku disuruh melepas celana jeasku! Aku cukup panik, bagaimana kalau wak li melihat kontolku ini sedang ngaceng ? Lagipula, aku Cuma pakai kolor renang yang sangat ketat. Sehingga kalau jeansnya kulepas, terlihat bagaimana besarnya kontolku itu mengembung di balik kolor renangku.
“Ya udah deh, wak,”aku bersikap seolah-olah pasrah saja. Biarin aja. Apa yang nanti terjadi, ya terjadilah.
Lima menit kemudian, tangan wak li beranjak melepas gesper / sabuk jeans ku. Matilah aku! Mau bagimanapun juga, kontol ini akan kelihatan ngaceng karena kolor renangku sangat ketat. Aku bahkan tidak bisa mengendalikan kontolku untuk tidur selama beberapa saat, setidaknya sampai aku selesai dipijat wak li. Tapi tidak bisa. Kontol ini terus-menerus ngaceng seolah-olah kontol yang besar perkasa ini juga minta dipijat,minta ditarik-tarik, minta dikocok-kocok, minta diciumi, minta diemut-emut, dan yang nggak kalah penting kontol ini meminta sang empunya untuk menembakkan peluru yang warnanya putih pekat itu. Tau ah! Aku pun membantu wak li melepas celanaku.
Saat itu, yang tersisa hanyalah kolor renangku saja. Aku tidak memakai rangkapan celana dalam lain karena bagiku, kolor renang sajasudah cukup. Dan hanya dengan memakai kolor renangku saja, bendulan kontolku yang tercetak di kolor itu pun jelas terlihat. Wak li terkejut bukan main melihat bagian tengah kolor renangku tercetak dengan jelas kontol ini sedang berdiri. Lagi-lagi ia memandang sejenak bendulan besar kontolku, kemudian tersenyum nakal. Wak li lalu melanjutkan aksinya memijit bagian paha dan betisku berurutan. Perlahan rasa pegal di bagian bawah tubuhku ini pun hilang dengan pijatan yang hangat itu. Dan tinggal satu masalahku , yakni kontolku. Sungguh, aku sepertinya tidak mampu mengendalikan senjata ampuhku ini untuk sedikit melemas, karena setiap detik rasanya kontol ini berdenyut-denyut. Aku pun semakin khawatir kalau-kalau wak li memandang denyutan-denyutan kontol ini. Dan tanpa permisi, aku membetulkan letak kontolku sekaligus mengendalikan kontol ini agar tidak terlalu berdenyutan. Tetapi dengan mata yang masih tajam, wak li lagi-lagi melihatnya. Dan bukan hanya itu, reaksi wak li pun semakin berani dan ia menanyakan sesuatu yang semenstinya tidak sopan dipertanyakan oleh dua orang berlainan jenis yang tidak bersuami-isteri.
“Kenapa mas? Mas G kontolnya ngaceng ya?”
Aku terkejut. Sangat terkejut. Aku dibuat gugup mendengar pertanyaan wak li. Tapi namanya juga ‘sudah terlanjur’, mau tidak mau harus kujawab apa adanya,”e..eh..iya nih, wak! Tau kenapa dari tadi ngaceng mulu.”
“Udah berapa hari nggak ngocok mas?”
“Seminggu, wak. Tuh, sampe ngacengnya parah kaya gitu.”
Wak li hanya tersenyum. Sepertinya, ia iba melihatku menderita dengan kontol yang semakin ngaceng ini. Ia pun malah semakin nekat, tangan kanannya meraba dengan kasar bendulan kontolku yang tambah ngaceng kayak gini. Oh…..sungguh rasanya sentuhan tangan wak li membuatku sangat terangsang, dan yang terjadi kontolku malah terus-menerus berdenyut sehingga wak li pun bisa merasakan denyutan kontolku.
“Ini sih ngacengnya udah parah, mas. Keras banget kayak linggis. Udah minta muncrat tuh.”
“Iya, wak…bingung banget. Kayaknya abis ini aku mau ngocok deh,”
Wak li tersenyum nakal, sementara tangannya masih merabai kontolku. Aku pun menjadi gugup, berharap pertolongan selanjutnya datang dari wak li.
“Kalau kontolnya wak kocokin mau nggak, mas?”
Senang sekali aku mendengar tawarannya. Wak li yang selama ini baik terhadap keluargaku, dengan senang hati mau memberikanpelayanan servis pengganti isteriku. Aku tentu tidak menolak, karena aku ini memang butuh seseorang yang sementara ini bisa mengalihkan tugas isteriku, yakni seseorang yang memang bisa kuajak bekerjasama dalam memuaskan nafsuku.
“Mau-mau. Kontolku kocokin sekarang dong, wak. Udah nggak tahan nih.”
Tanpa basa basi wak li langsung melepas celana renangku. Dan dengan sigap,tangannya segera meraih kontol besarku. Aku pun membantunya melepas celana renangku sampai aku betul-betul telanjang bulat. Ah, baru kali ini aku telanjang bulat di hadapan oran lain yang bukan isteriku. Tapi aku suka sih. Dan yang kulakukan kemudian hanyalah menikmati kocokan wak li yang nanti akan menjadi kocokan paling spesial dan kocokannya akan selalu kukenang.
Wak li terangsang melihat kontolku yang panjangnya hampir 18cm dengan diameter 5cm, ditambah buah pelir / itil yang hangat plus rambut kelamin yang sangat lebat selebat hutan belantara. Kontol dan belahan dada kekarku sungguh menantang di hadapannya, seakan-akan inilah profil laki-laki gagah perkasa era tahun ini. Tangan kanan wak li meggenggam erat kontolku yang tegang, sementara tangan kirinya merabai buah pelir dan jembutku bergantian. Dan genggaman tangan itu sangat erat, bahkan sampai kepala kontolku ini mencuat dengan gagahnya hingga lubang kontol terlihat begitu indanya. Ada cairan lengket yang sedikit sudah muncul di permukaan lubang ini, cairan mani hasil pikiran jorok lelaki sepertiku.
Lubang kontol yang basah ini kemudian dibauinya, seperti kucing pemburu yang sedang membaui makanan kesayangannya. Ditempelkannya kepala kontolku pada lubang hidungnya, dan wak li pun bernafas sambil membaui kepala dan lubang kontolku dengan penuh nafsu. Kontol ini agak bau memang, tapi bau itulah yang justru membuatnya sangat terangsang.
“Baunya peju mas. Udah mau muncrat tuh.”
“Kocokin aja wak, aku nggak tahan nih.”
Tanpa berpikir panjang, wak li akhirnya melakukan apa yang aku minta. Tangan kanannya mengocok-kocok kontolku dengan gemasnya sedangkan tangan kirinya masih bermain-main dengan itil dan jembutku. Gila, rasanya nikmat sekali kocokan wak li. Aku terus menerus mendesah sambil membuka mulut karena hasrat yang tak kunjung terpuskan ini.
“Oh…wak li, ayo..ngocoknya tambah kenceng lagi dong. Biar tambah nikmat. Oh…oh….”
“Iya, mas. Ini kontolmu gede sekali. Pasti rasanya nikmat kalo dirasain.”
“Ya udah…diemut aja wak! Pokoknya kontolku ini diurus deh sampe muncrat. Nih!”ujarku penuh nafsu sambil ku rentangkan kakiki dan kupamerkan lebih jelas Mr.Big ku.
Aku sunggu tak kuasa menahan nafsu birahiku saat dia mengocok dengan gesit kontol ini. Kontol ini juga semakin menantang! Tubuhku bergetar- getar menahan gejolak yang muncul karena nikmatnya kocokan wak li. “Oh…oh…oh…terus wak! Oh…..”
Sementara dia masih dengan setianya mengocok-ngocok dan menarik-naik kontolku yang gagah perkasa ini. Edan, enak sekali kocokannya. Sangat nikmat rasanya. Meski dia suda tua, tapi dia begitu menggairahkan. Tidak ada salahnya kalau kucoba saja dia, itung-itung selain sebagai pelampiasan hasrat, aku membantu memenuhi kebutuhan biologisnya
Aku mendesah lebih keras lagi dengan suara erangan yang penuh dengan gairah. Kulihat diapun semakin kesenangan dengan apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu. Sampai lima belas menit kemudian, tubuhku mengejang penuh gairah, serta kenikmatan ini rasanya telah mencapai puncak asmaraku. Crottt….peluru dahsyat berwarna putih pekat nan kental keluar seperti tembakan mitriliur. Spermaku muncrat deras dan sebagiannya melelehi tangannya yang sedang mengocok.
“Oh….oh….akhhhh……aku keluar, wak. Aku muncrat…”
Dia tidak banyak bicara. Dia sedang terobsesi dengan kontolku yang selalu menunjukkan pesona kejantananya. Diapun meninum semua sperma yang kukeluarkan dengan senangnya. Kontolku yang masih ngaceng, pun dia emut-emut dan dia sedot-sedot berharap ada tetesan sperma lagi yang keluar. Mulutnya belepotan penuh spermaku, karena memang saat itu aku banyak mengeluarkan cairan kental ini.
Setelah itu, perlahan kontolku tergolek lemas dan mengendur. Kontraksi kontol ini semakin berkurang karena aku sangat lemas. Namun wak li memang pintar. Ia melakukan segala cara, apapun agar kontolku ini kembali ngaceng dan kami siap melakukan permainan selanjutnya.
“Mas G, sebenernya wak sudah lama pengin main bareng mas G.Wak merasa bergairah dengan tubuh kekar mas G yang punya kontol hebat ini.”
Dia mengungkapkan curahan hatinya bahwa sudah lama dia terobsesi denganku. Baiklah, ini aji mumpung bagiku.
“Aku juga wak, gimana kalau hari ini kita puas-puasin aja main bareng?”
Dia langsung setuju. Wak li lalu melepas singlet putih yang dikenakannya, dan jelas terlihat gondelannya yang memukau membuatku ingin menggigitinya. Kuggiti dan kuemut-emut gondelan susunya itu. Dia mengeluh kegelian,, namun sebenarnya kesenangan dengan ulahku yang nakal ini. Perlakuaknku terus berlanjut dengan menciumi leher dan bahunya bergantian. Ciuman yang penuh nafsu birahi. Tapi bisa kupastikan dia selalu melenguh dan merintih kecil yang membuatku kembali bergairah melakukannya. Kurengkuh tubuhnya agar aku bisa menguasai penuh tubuh indah wak li. Tetap kucium-ciumi lehernya yang semampai dan menggairahkan itu. Wak Ii dengan gemas mencakar-cakar bahuku dan menjambak rambutku karena tidak tahan.
Ciuman itu kembali merajah ke bawah. Aku kembali menikmati susu wak li. Tangan kananku ini, dengan beringasnya melepaskan kain penutup wak li. Dia tidak menolak, malah bahkan membiarkan aksi brutalku ini. Kulepaskan kain penutup tubuh itu lalu kulemparkan ke bawah, kini tubuhnya yang sangat menggairahkan jelas terlihat di depan mataku. Woww…tubuh putih mungil, nan renta, membuatku ingin segera menguasainya. Memeknya merekah bersih tanpa sehelai bulupun. Aku pun beranjak meciumi bagian bawah tubuhnya. Dia sama sekali tidak mneolak. Kuperhatikan, dia mendongakkan kepalanya dan membuka mulutnya sambil mengeluarkan nafas. Lidahnya menari-nari di bibirnya karena hasrat.
Kugigiti pahanya dan dia tambah merasa nikmat dengan makin kerasnya pula desahannya. Dan setelah itu, aku lidahku bergelirnya menuju bagian tengah di antara dua pahanya, di bagian itulah lidah ini merasa menemukan gairah untuk menjilatinya. Menjilati bagian lunak itu. Lidah ini kumain-mainkan dengan otot-otot mulutku yang kuat, menjilati bagian bibir memeknya yang lembek. Kemudian masuk ke bagian yang lebih dalam lagi dari bibirnya. Disana, mulutku menemukan klitorisnya. Kugigit-gigit dengan ganas dan diapun semakin menjadi-jadi erangannya. Tangan wak li yang lincah, tetap menjambak-jambakkan rambutku, namun tidak bermaksud menarik kepalaku dari bagian nikmat itu. Malah justru terkesan menekan-nekan kepalaku ini agar aku terus menguasai memeknya.
Kemudian dengan tiba-tiba, dia terbaring dan melentangkan pahanya agar aku bisa menguasai dengan penuh betapa enak memeknya. Akupun semakin bersemangat. Kulakukan pemanasan ini dalam dua puluh menit di bagian itu, dan diapun mengalami orgasme pertamanya. Ada cairan putih kental yang juga keluar dari memeknya, yang beriringan dengan suara erangan mulutnya karena tidak tahan. Kucabut lidahku dari bagian itu, dan memeknya yang basah kuyup kusodok-sodok dengan jari tengahku sehingga ia pun semakin mengerang penuh iba. Sejenak kemudian, tubuh wak li terkulai lemas seperti kapas yang tertiup angin. Nafasnya masih terengah-engah dengan lidah yang masih menari di bibirnya.
Kutindihi tubuh wak li. Kami pun saling berpagutan. Kuciumi kembali lehernya yang menggairahkan dan pipinya yang kempot nan manis kujilat-jilati. Hidungnya yang mancung sedang memohon pada mulutku untuk dikulum. Kukulum hidungnya sehingga diapun gelagapan seperti orang yang kehabisan nafas. Kemudian, kukecup bibirnya dan diapun membalas kecupanku dengan hot. Kami saling berciuman, saling berbagi ludah, dan lidah kami saling berpagutan. Kami cukup lama melakukan ini hingga sampailah kami pada permainan inti.
Dengan sanga perkasanya, kontolku kembali ngaceng. Kupertontonkan tubuhku di hadapan wak li. Dia masih dalam keadaan terangsang dengan memainkan lidah serta putting susunya yang menggoda. Di hadapan dia, kukocok kembali kontolku dengan kocokan yang lebih cepat dan dengan gaya menantang ala pria perkasa. Setelah puas dengan aksiku, aku kembali menindihinya dan kumasukkan lubang kontolku ini ke dalam memeknya. Memek yang merekah itu kubobol.
Blessss……..memek wak li terasa empuk saat kutusukkan senjata pamungkasku. Dia merintih keenakan, dan pasrah dengan bagaimana nanti kelakuanku. Kugoyang-goyangkan maju mundur pantatku dan otomatis memek itu kusodok dengan stick keras kepunyaanku. Wak li semakin menggila, ia memukul-mukul punggungku dengan gemas karena tidak tahan. Suara mendesah dan merintihnya pun semakin keras.
“Oh…mas, mas, kamu edan mas! Edan”
“Eenak kan wak? Ayooo ngaku, kontolku enak enggakkkkk? Akhhh….”
“Ohh,oh…enak sekali mas, oh…kontolnya gede banget mas. Marem banget. Wak seneng banget. Oh…”
“Iya wak…oh….oh….tterus mmendesahnya wak. Oh,…wak li, memekmu sangat menggairahkan. Aku mau kalau tiap hari kayak gini wak.”
“Ahhh…ah….oh…terus mas, terus dorong dorong bokongnya. Oh….edan kamu mas! Kamu edan!”
“Nikmat wak….rrrasanya eenak ssekalii. Ohhh…oh….memekmu wak…memekmu, ohhhhh.”
“Kontolmu mas…kontolmu,,,edan kamu mas! Kontolmuuu.”
Desahannya semakin mengerang, aku pun khawatir akan ada tetangga yang memergoki kami bercinta di kamar yang kasurnya berselubung kelambu biru ini. Untuk mengantisipasi hal ini, kembali kukulum hidungnya dan kucum bibirnya bergantian agar ia tidak memberontak dengan suara erangannya. Tangannya yang lincah sering berpindah-pindah menahan rasa geli bercampur nikmat akibat sodokan kontolku. Sesekali menggebuk-gebukkan bahuku, sesekali menjambak rambutku, menjambak sprei kasurnya, ataupun menjangkau barang-barang apapun yang bisa ia genggam menahan sodokan kontolku. Tidak jarang pula kedua kakinya yang terlentang ia angkat atau ia lipat meliliti bokongku bergantian. Lima menit kemudian, ia berhasil mengalami orgasme keduanya. Membuat sodokanku lebih kencang dalam melakukannya, ditambah ada air segar yang melicinkan jalan senggama kami.
“Ahhh…ah…ah…..embhhh…akhhhh, mas,,,,,”begitu desahnya karena tidak tahan.
Sedangkan kontol ini masih buas-buasnya menjelajahi alam bawah perutnya itu. Tetap kudorong-dorong pantatku dan kusodok-sodok memeknya. Kami bercinta dengan gaya tradisional, misionaris. Kenyal dan nikmat terasa betul saat kulakukan adegan ini dengan penuh gairah. Sekitar dua puluh menit kami saling mendesah, saling menunjukkan ekspresi yang membuatnya masing-masing bergairah, dan saling berperang alat kelamin, tiba juga aku di puncak asmaraku yang kedua.
Crotttt…crot…..srrrr….,spermaku muncrat lagi di dalam liang senggamanya. Kuyakin ia bisa merasakan dengan betul hangatnya semprotan spermaku ini. Aku masih menunjukkan ekpresi orang yang sedang mencapai puncak, terus mendesah-desah nikmat di hadapannya. Dan bokongku tidak henti-hentinya maju mundur sampai spermaku habis menyemprotnya.
Aku kembali tergolek lemas dan jatuh tertelengkup di atas tubuh wak li. Nafasku terengah-engah merasakan sisa kenikmatan yang masih kurasa saat kontolku masih gagah berdenyut-denyut. Wak li pun demikian. Ia membelai rambutku sebagai pertanda rasa sayang karena memuji kejantananku. Hari ini, aku berhasil menggagahinya.
“Oh…wak li, memekmu ini bener-bener kenyal, empot-empot rasanya. Aku pengin tiap hari kita kayak gini, Wak.”
“Iya mas, mas G juga gagah, ganteng, perkasa lagi. Mas G bisa bikin wak keluar dua kali. Edan kamu ini, mas.”
Kami saling memuji kelebihan kami masing-masing dalam membagi keromantisan yang terjadi hari ini. Setelah itu, kukecup lagi bibir wak li dengan sangat gemasnya.
Aku mencabut kontolku yang kian melemas. Kontol ini sudah basah karena berperang di dalam medan petempuran milik wak li yang sangat menyenangkan. Lalu, aku berbaring di samping wak li yang sama-sama lemas. Kami pun kembali berciuman karena rasa sayang. Tanpa kami sadari, kami terlalu larut dalam kenikmatan yang membuat kami kelelahan. Kami pun tertidur pulas dalam keadaan sama-sama telanjang.
Jam 4 sore aku terbangun dan dia masih tertidur damai di sampingku. Senang sekali aku melihatnya. Dia tertidur dengan gayanya yang manja. Lalu kucium lagi pipi dan hidungnya bergantian sebagai tanda sayang. Dan lagi-lagi, kontol ini kembali berontak. Kontol ini kembali gagah perkasa ingin melakukan aktivitas seksual yang beberapa jam lalu kami lakukan. Tanpa permisi, kunaiki tubuh wak li dan kusodok lagi memek wak li. Dia terbangun dan mewajari kelakuan nakalku yang memang edan ini.
“Wak, aku ngaceng lagi. Kayaknya aku pengin lagi nih,”ucapku penuh birahi.
Dia diam saja melihat ulahku. Pasrah. Akupun kembali melakukannya dengan gaya bercinta yang sama. Sekitar lima dua puluh lima menit aku melakukan peperangan di dalam memek wak li. Bedanya dengan yang sebelumnya, kali ini spermaku kusemprotkan di luar. Saat aku hampir mencapai klimask, kutarik kontolku dan kujulurkan benda kebanggaanku di depan mukanya. Kukocok-kocok dengan tanganku dan kontol ini kembali memuntahkan spermanya. Sperma itu tumpah ruah di muka wak li.
Setelah itu, tanpa ba-bi-bu lagi, kusudahi permainan di ranjang kenikmatan ini meski kami tidak ingin mengakhirinya. Tapi hari sudah sore dan orang-orang akan mencurigai ada apa di dalam rumah wak li yang sejak tadi siang pintunya tertutup. Kukenakan lagi pakaianku yang tercecer di bawah. Sebelum pulang, kucium lagi bibirnya dan ia pun membalas ciuman bibirku.
Dan semenjak kejadian itu, hubungan kami berdua semakin harmonis. Esoknya saat matahari menjelang pergi, kuajak dia ke rumahku dan kami kembali melakukan pertarungan dahsyat di kamarku. Kuperbolehkan dia mengerang keras sekeras-kerasnya saat kusodok, karena kamarku memang didesain sebagai ruangan kedap suara. Sore itu hingga malam kami melakukannya sebanyak empat kali di tempat yang bergantian. Di kamarku, di ruang tengah sambil nonton TV, di mobil, dan di kamar mandi sambil saling memandikan. Kami pun bermalas-malasan dan selama jam-jam itu kami sama-sama telanjang bulat meski kami tidak sedang melakukannya.
Dan ketika pagi datang, aku kembali melakukannya di kamarku yang hangat. Orang-orang di luar sudah mulai bertanya-tanya dimana wak li. Dan saat aku keluar rumah, mereka sempat menanyaiku, namun kujawab aku tidak tahu dimana. Padahal, dia ada di dalam rumahku dan sedang menjadi simpananku yang setia melayani nafsu birahiku.
Sampai disitu, aku dikejutkan dengan berita bahwa istriku akan pulang dengan anakku. Cepat-cepat kusudahi permainan ini, sehingga dia kukembalikan ke habitat semulanya di tempat yang sangat kurindukan sebagai penyedia obat pemuasku saat pertama kali aku menyetubuhinya. Beberapa jam kemudian istriku datang dan aku kembali menjalani hari-hariku dengan keluargaku. Namun meski begitu, aku dan wak li tetap melakukan hubungan seks layaknya suami isteri. Kadang aku berbohong kalau akan ikut ronda malam bergabung bersama Bapak-bapak kompleks lain, namun sebenarnya aku tengah menginap di rumah wak li dan melakukan kebiasaan menyenangkan ini. Kadang pula Wak li bermain di rumahku dan mengobrol dengan isteriku. Dan saat itu, kubujuk istriku untuk pergi ke warung di kompleks sebelah sekadar membeli makanan ringan untuk wak li, padahal agar aku bisa memanfaatkan waktu yang sangat berkualitas ini. Meski singkat, aku tetap menikmatinya dengan cukup beronani di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat. Dan kadang pula, saat isteriku kerja dan aku sedang dalam masa cuti, kupergunakan waktuku ini dengan membagi kasih sayang denga wak li sehingga kami tetap melakukan hubungan seks seperti suami isteri pada umumnya.
Begitulah ceritaku dengan wak li, janda tua yang sangat menggairahkan. Bayangannya selalu muncul saat aku menyetubuhi istriku. Dan sampai sekarang, hubungan kami masih berlanjut.